Raja Terakhir yang Berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Timur
“Airlangga Penerus Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Timur
atau Mendirikan Kerajaan Tersendiri ”
John Peter, Mochamad Dani Sudaryono, Rais Nur Arif *
Jurusan Sejarah, Univeritas Negeri Jakarta
Abstrak
Artikel ini mendiskusikan perihal raja terakhir yang berkuasa pada Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur serta membahas tentang siapa Raja Airlangga sebenarnya. Kasus yang dipaparkan adalah siapa raja terakhir yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno kemudian ditinjau melalui sumber sejarah khususnya buku yang memuat berbagai macam teori di dalamnya. Dengan tinjauan ini, penulis artikel ini berpendapat bahwa kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur berakhir pada masa Dharmawangsa Teguh bukan Airlangga. Pendapat ini dijelaskan dengan menelusuri silsilah keluarga Kerajaan Mataram Kuno dan mencari identitas Airlangga yang sebenarnya.
Pendahuluan
Kerajaan Mataram Kuno atau yang sering disebut dengan Bhumi Mataram, pada awalnya adalah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang diperintah oleh dua wangsa yaitu wangsa sanjaya dan wangsa syailendra. Seiring dengan perkembangannya, ketika Raja Wawa berkuasa terjadi peristiwa bencana alam yaitu meletusnya Gunung Merapi yang menyebabkan kehancuran sehingga pusat kerajaan dipindahkan ke wilayah Jawa Timur oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok mendirikan Kerajaan Mataram namun dengan wangsa baru yang diberi nama Wangsa Isana.
Ada 2 versi tentang raja-raja yang berkuasa pada Wangsa Isana. Versi pertama menurut buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II yaitu ; Mpu Sindok, Sri Lokapala, Makuntha Wangsawardhana, Dharmawangsa Teguh, dan Airlangga. Versi kedua menurut Slamet Muljana dan Munoz yaitu; Mpu Sindok, Sri Lokapala, Makuntha Wangsawardhana, dan Dharmawangsa Teguh. Namun, banyak pendapat yang menyetujui versi pertama. Hal ini membuat penulis tertarik untuk mengkaji kembali kedua teori tersebut dan mencari informasi melalui berbagai sumber sejarah. Dengan tujuan untuk mencari pendapat yang paling kuat diantara kedua pendapat tersebut.
Hancurnya Istana Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur
Pada awalnya, Dharmawangsa Teguh berhasil memajukan Mataram dengan melakukan politik luar negeri. Ini merupakan suatu hal yang besar karena dia merupakan raja Jawa yang pertama kali melakukan politik luar negeri. Dharmawangsa Teguh meluaskan kekuasaannya ke daerah Bali, Sriwijaya dan Kalimantan. Pada masa itu dunia luar pun sedang bergerak ke arah perdagangan. Mungkin karena dorongan berdagang itulah Dharmawangsa malah mengirim ekspedisi untuk menghantam Sriwijaya.1 Hal ini lah yang membuat Sriwijaya geram dan ingin membalas dendam.
1Menurut catatan Dinasti Sung (960-1279), serangan Dharmawangsa terhadap Sriwijaya sudah terjadi paling lambat pada 992. Hal ini sesuai dengan keterangan utusan Sriwijaya ke China. (lihat di Menuju Indonesia, Parakitri T. Simbolon, hal: 412)
2Mahapralaya adalah peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasarkan berita dalam prasasti Pucangan. Tahun terjadinya peristiwa tersebut tidak dapat dibaca dengan jelas sehingga muncul dua versi pendapat. Sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Mataram Kuno runtuh pada tahun 1006, sedangkan yang lainnya menyebut tahun 1016. (lihat di id.wikipedia.org/wiki/kerajaan_medang ). Penggambaran malapetaka ini berasal dari Batu Calcuta yang mengatakan bahwa ambisi Dharmawangsa itu membuatnya patut dipandang sebagai “imperialis” sebelum kata itu diciptakan dijelaskan lagi penggambaran malapetaka itu menurut salah satu dari dua terjemahan. Yang pertama dari Poerbatjaraka adalah “bagai lautan malapetaka”, sedang dari C. C. Berg, “bagai induk lautan.pengertian Poerbatjaraka memang bermakna malapetaka; tetapi pengertian C.C.Berg bisa berarti menguntungkan, artinya sebagai pujian kepada Erlangga yang mampu menenangkan lautan bergolak itu. Selain itu, tafsiran yang berbeda tersebut bisa berarti bahwa malapetaka yang menghancurkan Kraton Dharmawangsa mungkin saja letusan gunung atau badai, walaupun perang antara kerajaan itub dan Sriwijaya memang betul terjadi. Inilah yang terpantul dalam tulisan Krom. (lihat di Menuju Indonesia, Parakitri T. Simbolon, hal: 412)
Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II dikatakan bahwa Airlangga yang lolos dari serangan wunawari adalah pasangan pengantin dari putri dharmawangsa Teguh. Yang dapat diartikan bahwa Airlangga adalah menantu dari raja Dharmawangsa Teguh. Teori dari Slamet Muljana dan buku Munoz berkata lain tentang Airlangga. Airlangga dikatakan hanyalah sebagai tamu undangan dalam pesta pernikahan putri Dharmawangsa Teguh bukanlah sebagai pengantin pria. Airlangga sendiri adalah anak dari Raja Udayana Kerajaan Bedahulu di Bali dan putri Mahendrata, putri dari Makutawamsa. Sedangkan Makutawamsa adalah cucu dari Mpu Sindok. Dapat diartikan bahwa Airlangga masih keturunan Mpu Sindok sehingga sangat memungkinkan Airlangga diundang dalam acara pernikahan puti Dharwangsa Teguh. Dalam buku munoz juga dikatakan bahwa pada saat Airlangga datang sebagai tamu undangan dalam pesta pernikahan tersebut ia masih berumur 16 tahun. Jadi sangat tidak memungkinkan bahwa airlangga adalah pengantin dalam pesta pernikahan tersebut.
Setelah penyerangan Wunawari yang menyebabkan kehancuran Kraton Dharmawangsa terjadi kekosongan kekuasaan selama 4 tahun di Jawa Timur. Airlangga sendiri selamat dari Mahapralaya dan mendapat perlindungan dari sebuah komunitas biarawan di lereng gunung Vanagiri. Selama kekosongan kekuasaan di Jawa Timur banyak terjadi pertempuran diantara Rakai untuk mendapatkan dominasi kekuasaan, namun tidak ada seorang pun yang bisa mendominasi. Hal ini disebabkan karena setiap Rakai yang bertempur hanya memikirkan tentang perebutan daerah kekuasaan. Mereka melupakan bahwa saat peristiwa Mahapralaya terjadi, tentara yang menyerang Keraton Mataram sebagian merupakan tentara dari Sriwijaya. Jadi, kemungkinan besar para Rakai yang bertempur bisa mendominasi kekuasaan di Jawa karena pada saat itu Sriwijaya adalah salah satu kerajaan yang kuat. Hanya ada tiga nama yang terdengar dalam pertempuran yaitu Rakai Bhismaprabava, Vijaya, Raja Wengker, dan Wunawari sendiri. Hanya orang-orang inilah yang kemungkinan besar cukup mendominasi Jawa setelah terjadi Mahapralaya.
Airlangga Mendirikan Kerajaan Baru
Setelah terjadi kekosongan pemerintahan selama kurang lebih 4 tahun, sekelompok bangsawan dan Brahmana mengunjungi biara tempat Airlangga bersembunyi. Mereka membujuk Airlangga supaya mau menjadi raja penerus Dharmawangsa Teguh. Keputusan ini diambil karena beranggapan Airlangga masih memiliki keturunan dengan Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isana. Hal ini dilakukan agar saat Airlangga menjadi raja, tidak ada pertentangan yang berlebihan dari bekas vasal-vasal Kerajaan Mataram Kuno. Untuk lebih jelas, kita bisa lihat pada bagan di bawah ini:
(maaf, bagan tidak bisa ditampilkan)
(maaf, bagan tidak bisa ditampilkan)
Keterangan Bagan:
Mpu Sindok (pendiri Wangsa Isana) memiliki seorang anak perempuan bernama Sri Isana Tunggawijaya yang kemudian menikah dengan Sri Lokapala. Setelah menikah, mereka mempunyai anak laki-laki bernama Makuntha Wangsawardhana. Makuntha Wangsawardhana memiliki anak perempuan yang bernama Mahendratta yang kemudian menikah dengan seorang Raja di Bali bernama Raja Udayana. Setelah menikah, mereka mempunyai anak bernama Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu.
Bagan ini di buat berdasarkan Prasasti Pucangan3 berangka tahun 1041 M. Kalau kita lihat, Airlangga masih memiliki garis keturunan dengan Mpu Sindok, pendiri Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur, namun perlu kita ketahui bahwa saat Makuntha Wangsawardhana berkuasa dia memberikan tahtanya kepada kerabatnya yaitu Dharmawangsa Teguh. Saat Dharmawangsa Teguh berkuasa terjadi peristiwa Mahapralaya dimana putri mahkota sekaligus pewaris dari Kerajaan Mataram Kuno terbunuh. Jadi, dengan demikian Kerajaan Mataram Kuno tidak ada penerusnya.
Sebenarnya, Airlangga sempat menolak untuk menjadi raja karena takut terjadi banyak pertentangan dari bekas vasal-vasal Mataram Kuno yang lain. Namun, dengan diyakinkannya oleh bangsawan dan Brahmana bahwa dia masih memilki garis keturunan dengan pendiri Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur. Sebenarnya kalau kita kembali melihat silsilah Airlangga, dia merupakan pewaris tahta Kerajaan Bedahulu di Bali karena dia merupakan putra mahkota dari Raja Udayana yang sekaligus keturunan Wangsa Warmadewa. Namun, karena terjadi peristiwa Mahapralaya dia tidak bisa kembali ke Bali dan terpaksa tinggal di Jawa Timur.
3Prasasti Pucangan adalah prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 963 Saka (1041 M). Pada bagian yang berbahasa Sansekerta itu mulai dengan penghormatan kepada Brahma, Wisnu, dan Siwa, yan disusul dengan penghormatan kepada Raja Airlangga. Selanjutnya dimuat silsilah Raja Airlangga.(lihat di Sejarah Nasional Indonesia jilid II, hal:157)
Setelah Airlangga bersedia menjadi raja di Jawa Timur, Airlangga resmi dinobatkan sebagai raja pada tahun 1010 M. Jika kita kaitkan dengan sejarah Mataram Kuno sebelumnya, ada hal yang menarik yang perlu kita teliti lebih lanjut yaitu pola terbentuknya Kerajaan Mataram Kuno terutama saat pergantian wangsa atau pembentukan wangsa baru.
Kita ambil saja contoh saat berdirinya wangsa Isana. Wangsa Isana merupakan kelanjutan dari Wangsa Sanjaya, namun karena pada waktu itu pusat kerajaan di Jawa Tengah hancur akibat letusan Gunung Merapi sehingga pusat kerajaan dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok dan pada waktu itu Mpu Sindok memiliki gelar Rakai Halu Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa. Sehingga banyak orang menganggap dialah pendiri dari Kerajaan Mataram Kuno yang baru dan wangsa baru sehingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah wangsa.
Dari kejadian ini, kita bisa beranggapan bahwa setiap ada kehancuran di kerajaan, maka kerajaan atau wangsa tersebut sudah hancur pula. Dan jika ada seseorang yang membangun meskipun dia masih kelanjutan dari wangsa atau kerajaan sebelumnya, maka dia dianggap sebagai pendiri kerajaan dan nama dari wangsa atau kerajaan pun berubah pula.
Pada mulanya, wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga terbatas antara Surabaya dan Pasuruan dan membangun ibukota bernama Watan Mas di sekitar wilayah Gunung Pananggungan. Keterangan ini didapat dari Prasasti Cane yang menerangkan bahwa “pada tahun 1021 M Airlangga membangun ibukota baru di kaki Gunung Pananggungan bernama Watan Mas”. Tidak lama kemudian, Airlangga mengambil keuntungan dari penyerangan Rajendra Chola ke Sriwijaya dengan melancarkan aksi militer ke berbagai daerah di pulau Jawa. Airlangga mengambil keputusan ini karena Airlangga menganggap saingan terbesarnya yaitu Sriwijaya sedang dalam kekacauan.
Dalam salah satu prasasti yaitu Prasasti Kalkuta menerangkan dalam bahasanya bahwa:
“…dia membinasakan dan membakar Jawa Selatan dengan lidahnya bagai seekor ular api….”
Maksud dari keterangan ini pada tahun 1032 M, dia menantang seorang Ratu yang mendominasi Selatan Jawa. Dan disini menggambarkan pula bagaimana kehebatan Airlangga dalam peperangan yang dia lakukan
Namun, menurut prasasti Terep, 1032, menguraikan bahwa Raja Airlangga dalam kejaran musuh lari dari Watan Mas menuju Desa Patakan. Rupanya ibukota Watan Mas yag telah diduduki musuh itu tetap ditinggalkan.
Pada tahun 1037 M. ibu kota kerajaan Airlangga pindah ke Kahuripan di sebelah Timur Gunung Pananggungan. Airlangga tidak lama di Kahuripan karena pada tahun 1042 M. ibukota Kerajaan Airlangga pindah ke Daha. Hal ini dapat dibuktikan dari keterangan prasasti Pamwatan4 yang dikeluarakan oleh Raja Airlangga. Dalam prasasti tersebut terdapat stempel dengan tulisan Dahana. Tidak diketahui dengan pasti apa sebabnya ibukota itu pindah dari Kahuripan ke Daha karena sampai sekarang belum ditemukan prasasti yang memberitakan peristiwa tersebut. Dalam kitab Nagarakretagama juga menyebut Arilangga sebagai Raja Panjalu yang brpusat di Daha. Hal lain yang membuktikan bahwa Airlangga memimpin di Daha yaitu tercatat pada Serat Calon Arang5yang menyebutkan:
“….Adalah pemimpin di Daha. Tentram olehnya memerintah; damai Negeri pada pemerintahannya. Maharaja Erlangga gelarnya, sangat baik budi…”
4Prasasti Pamwatan mulai dengan nama Dahana: nama ini dipahat di bagian muka atas
5Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut. (lihat di id.wikipedia.org/wiki/calon_arang )
Dengan kutipan ini, kita bisa beranggapan bahwa Airlangga memang pernah mendirikan kerajaan di Daha. Bahkan Airlangga dianggap sebagai Maharaja oleh rakyatnya. Dari sini juga kita bias mengambil kesimpulan bahwa Airlangga adalah Raja Daha yaitu ibukota dari Kerajaannya. Dengan ini secara tidak langsung bahwa Airlangga merupakan seorang raja yang memerintah di Daha yang kemudian menjadi pusat pemerintahan di kerajaannya yaitu Kerajaan Airlangga.
Kesimpulan
Paparan di atas menggambarkan secara jelas tentang berakhirnya kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur dan siapa Airlangga sebenarnya. Kalau kita lihat, sangat tampak jelas bahwa kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno berakhir pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Hal ini ditandai dengan peristiwa Mahapralaya yang pada saat itu Dharmawangsa Teguh terbunuh beserta pewaris tahta kerajaan yaitu putri dari Dharmawangsa itu sendiri. Dengan demikian, secara otomatis kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah berakhir. Setelah peristiwa ini, terjadi kekosongan kekuasaan kurang lebih selama 4 tahun yang menyebabkan banyak orang menganggap bahwa kekuasaan Mataram Kuno telah berakhir.
Meskipun ada salah satu keturunan dari Kerajaan Mataram Kuno yang masih hidup yaitu Airlangga, namun dia merupakan pewaris tahta Kerajaan Bedahulu di Bali yang merupakan ayahnya keturunan Wangsa Warmadewa meskipun ibunya Airlangga merupakan cicit dari Mpu Sindok (pendiri Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur).
Kita dapat tinjau kembali dari pola Mataram bahwa setiap ada suatu kehancuran maka seorang yang berhasil mendirikan kembali kerajaan berhak mengklaim adanya wangsa baru bahkan kerajaan yang baru pula. Hal ini pun terjadi pada Airlangga. Namun bedanya, saat Mpu Sindok mendirikan kerajaan di Jawa Timur, dia masih memproklamirkan dirinya sebagai Raja Mataram sedangkan Airlangga memproklamirkan dirinya sebagai Raja Daha yang tertuang dalam Serat Calon Arang dan Nagarakretagama. Sehingga secara langsung dia mengaku bahwa dia mendrikan kerajaan sendiri yaitu Kerajaan Airlangga bukan meneruskan Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur.
Jadi, penulis menyimpulkan bahwa kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur berakhir pada masa Dharmawangsa Teguh dan Airlangga bukanlah bagian dari Raja Kerajaan Mataram Kuno meskipun masih memiliki garis keturunan dengan Mpu Sindok, melainkan Airlangga mendirikan kerajaan sendiri yaitu Kerajaan Airlangga yang pada akhirnya berpusat di Daha.
Daftar Pustaka
aindra.blogspot.com/2007/12/legenda-calon-arang.html
id.wikipedia.org/wiki/airlangga
id.wikipedia.org/wiki/kerajaan_medang
Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagma. LKiS Yogyakarta: Yogyakarta.
Munoz, Paul. 2009. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Mitra Abadi: Yogyakarta.
Poeponegoro, Marwati D. 2008. Sejarah Nasional Indonesia jilid II. Balai Pustaka: Jakarta
Simbolon, Parakitri T. Menjadi Indonesia. Kompas: Jakarta.